RI Dijanjikan US$ 1 Triliun dari KTT G20, Ini Reaksi Jokowi

Presiden Joko Widodo Saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Bank Indonesia)

Hasil perhelatan akbar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara dengan ekonomi terkuat di dunia yang tergabung dalam G20 di Bali, 15-16 Desember 2022 lalu, telah berbuah manis bagi negeri ini. Indonesia meraih komitmen pendanaan hingga nyaris US$ 1 triliun, tepatnya sekitar US$ 929,4 miliar.

Komitmen pendanaan ini diserukan oleh sejumlah negara maju, utamanya di bawah pimpinan Amerika Serikat, untuk pembiayaan proyek infrastruktur hingga transisi energi di Indonesia.

Lantas, bagaimana Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyikapi komitmen pendanaan asing yang luar biasa besar itu?

Tak lantas lupa diri, Presiden Jokowi justru langsung memerintahkan jajarannya untuk segera menindaklanjuti berbagai kesepakatan yang telah tercapai pada KTT G20 pada dua pekan lalu itu.

Presiden meminta agar segera dibentuk gugus tugas atau task force untuk menindaklanjuti berbagai kesepakatan yang telah dicapai tersebut.

Hal tersebut Presiden sampaikan saat memimpin rapat terbatas tentang evaluasi pelaksanaan KTT G20 yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 28 November 2022.

“Berkaitan dengan hasil yang konkret saya kira juga ini betul-betul ini yang paling penting agar segera ditindaklanjuti dengan membentuk¬†task force¬†untuk menyelesaikan kesepakatan-kesepakatan,” ungkap Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi memerinci, setidaknya terdapat 226 proyek yang bersifat multilateral dengan nilai mencapai US$ 238 miliar dan 140 proyek yang bersifat bilateral dengan nilai US$ 71,4 miliar yang perlu segera ditindaklanjuti.

“Ini harus dipastikan bahwa semua proyek program dan inisiatif ini segera dapat dieksekusi dengan cepat,” lanjutnya.

Selain itu, Presiden juga meminta jajarannya untuk mengawal percepatan berbagai komitmen investasi agar bisa terealisasi di lapangan. Sejumlah komitmen investasi tersebut antara lain komitmen dari pemerintah Amerika Serikat melalui skema Partnership for Global Infrastructure Investment sebesar US$ 600 miliar.

Kemudian, US$ 20 miliar untuk pengembangan kendaraan listrik berbasis fosil melalui Just Energy Transition Partnership (JETP).

Di samping itu, ada juga komitmen investasi dari Jepang, Inggris, dan Korea Selatan untuk MRT Jakarta, serta kerja sama dengan Turki untuk pembangunan jalan tol Trans-Sumatra dan lain-lainnya.

“Saya melihat ini banyak sekali, oleh sebab itu perlu segera ada task force khusus misalnya yang Amerika siapa, yang UAE siapa, yang Korea siapa, yang Jepang siapa, semuanya yang China siapa, sehingga semuanya bisa secara detail menindaklanjuti apa yang menjadi kesepakatan kita di Bali,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*