Produksi Nikel AS Cuma 18 Ribu/Tahun, Kok Berani Kucilkan RI?

Pertemuan bilateral Presiden Joko Widodo dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, The Apurva Kempinski Bali, 14 November 2022. (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Belakangan ini terdengar kabar tidak menyenangkan dari Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia. Pasalnya, AS dinilai sedang pilih kasih alias tidak berlaku adil terhadap Indonesia. Kalimat yang menyeruak adalah “AS sedang mengucilkan negara kita, Indonesia”. Lantas benarkah demikian? Ada apa?

Kabar ‘pilih kasih’ ini setelah AS dinilai sedang berlaku tidak adil terhadap Indonesia. Khususnya terkait dengan pemberian subsidi hijau bagi mineral yakni nikel untuk kendaraan listrik.

Pengucilan produk nikel itu dikatakan langsung oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menyayangkan atas pengucilan terhadap mineral kritis Indonesia dari paket subsidi Amerika Serikat untuk teknologi hijau.

Sebagaimana diketahui, pemerintah AS akan menerbitkan pedoman kredit pajak bagi produsen baterai dan EV di bawah Undang-Undang Pengurangan Inflasi dalam beberapa minggu ke depan. Undang-undang ini mencakup US$ 370 miliar dalam subsidi untuk teknologi energi bersih.

Namun, baterai yang mengandung komponen sumber Indonesia dikhawatirkan tetap tidak memenuhi syarat untuk kredit pajak Inflation Reduction Rate (IRA) secara penuh. Alasannya AS menilai bahwa Indonesia belum memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS dan dominasi perusahaan China dalam industri nikel.

Lantas, mengapa kabar ini kian heboh di masyarakat hingga Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait dengan tidak masuknya Indonesia dalam kebijakan paket subsidi hijau dalam kredit pajak Inflation Reduction Rate(IRA) ini?

Menko Marves Luhut menyatakan bahwa berkenaan dengan IRA memang lebih menarik dari pada harga-harga lain seperti harga gas. Namun, Luhut menyatakan jika AS tidak segera menjalin kerja sama dengan Indonesia atau Free Trade Agreement (FTA) maka yang akan rugi adalah pihak AS itu sendiri.

“Kita akan bicara (dengan AS), karena kalau tidak, mereka akan rugi juga dan green energy yang kita punya untuk proses prekursor katoda itu mereka nggak dapat dari Indonesia karena kita nggak punya Free Trade Agreement/FTA dengan mereka,” tegasnya saat konferensi pers di gedung Kemenko Marves.

Dari pernyataan Luhut ini, lantas apakah Amerika merupakan produsen atau justru konsumen nikel? Seberapa besar kekuatannya bisa mengucilkan Indonesia?

Berdasarkan laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel di dunia diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton pada 2022. Jumlah itu meningkat 20,88% dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 2,73 juta metrik ton.

Dalam laporan tersebut, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia pada 2022. Total produksinya diperkirakan mencapai 1,6 juta metrik ton atau menyumbang 48,48% dari total produksi nikel global sepanjang tahun lalu.

Kita lihat saja, dalam daftar tersebut AS menempati urutan terakhir sebagai penghasil nikel terbesar di dunia yakni hanya 18 ribu metrik ton. Dibandingkan dengan Indonesia, tentu masih kalah jauh.

Selain unggul sebagai produsen, Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada 2022 yakni mencapai 21 juta metrik ton. Posisinya setara dengan Australia. Ada pula Brasil sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia berikutnya sebanyak 16 juta metrik ton.

Kalau data ini kurang meyakinkan bahwa Indonesia ini kaya, kita kulik data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat cadangan nikel kita bisa sampai ratusan tahun. Menurut BPS stok nikel nasional bisa dimanfaatkan untuk produksi selama 108 tahun. Simak buktinya.

Dari data ini, BPS telah menghitung estimasi umur aset ini dari rasio antara stok fisik (cadangan) sumber daya mineral nasional pada akhir 2021 dengan tingkat ekstraksinya dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara kalau dilihat dari sisi konsumen, apakah AS yang terbesar?

Sejauh ini, konsumen nikel terbesar adalah negara China. Mengacu data Statista, permintaan nikel China pada tahun 2020 lalu mencapai 1,31 juta ton. Sementara permintaan nikel global yang pada tahun lalu mencapai 2,78 juta ton, seperti ditulis menurut International Nickel Study Group (INSG), diperkirakan akan meningkat menjadi 3,02 juta ton tahun ini.

Amerika Serikat juga merupakan salah satu konsumen nikel terbesar di dunia, menurut data USGS konsumsi timah AS pada 2021 sebesar 210.000 ton atau sekitar 7% dari total konsumsi dunia. Tetapi, dengan permintaan yang “hanya” kurang dari seperempat juta ton, tentunya Amerika Serikat tidak akan kesulitan memenuhi kebutuhannya.

Meski dikucilkan dan mungkin membuat Indonesia berkecil hati tetapi baik Kadin, Luhut bahkan kita semua berharap Amerika Serikat akan memberikan status yang setara kepada anggota Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) dengan negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan bebas penuh dengan Amerika Serikat.

Terlebih, dalam industri pengembangan kendaraan listrik, pemerintah juga turut mengajak Amerika maupun Uni Eropa untuk menaruh kepercayaan pada Indonesia dan negara ASEAN lainnya. Dengan peran penting Indonesia dan ASEAN dalam rantai pasokan kendaraan listrik.

Itu sebabnya kita harus optimis bahwa kawasan ini akan menjadi mitra strategis baik Amerika Serikat, Uni Eropa maupun China dalam sektor energi bersih.

Langkah ini juga sebagai penguatan hubungan ekonomi dan politik bagi ASEAN terhadap global, serta memberikan manfaat bagi industri dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendorong perekonomian tanah air melalui komoditas tersebut. Pasalnya, nikel merupakan bahan baku penting dalam pembuatan baterai pada industri kendaraan listrik (EV), yang tengah bertumbuh eksponensial secara global.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*